Pendidikan

QANAAH DALAM BERKURBAN DAN BERHAJI

QANAAH DALAM BERKURBAN DAN BERHAJI

Penulis: Dr. Ahmad Afif, M.EI, CWC.

Instagramamanahzakat

 اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِذَبْحِ الْأُضْحِيَّةِ. وَبَلَغَنَا إِلَى هٰذَا الْيَوْمِ مِنْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ ذُوْ رَحْمَةٍ وَاسِعَةٍ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ تُرْجَى مِنْهُ الشَّفَاعَةُ. أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ ذَوِي الْعُقُوْلِ السَّلِيْمَةِ، صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الرَّحْمَنِ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْمَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْانِ: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

صَدَقَ اللهُ العَظِيمُ وَصَدَقَ رَسُولُهُ الكَرِيمُ وَنَحْنُ عَلَى ذَلِكَ مِنَ الشَّاهِدِينَ

 

Hadirin jamaah idul adha…

Sebuah untaian syukur “Alhamdulillah” kita haturkan kepada sang Maha Pemberi nikmat – Allah swt.—dengan segala bentuk kepada kita. Betapa Pemurah-Nya, Allah swt. memberikan jalan keluar kepada orang yang bertakwa --  مَخْرَجًاۙ—yaitu jalan keluar sebagai langkah solusi dari malapetaka yang menghantui dan menakutkan di dunia serta akhirat. Juga diberikannya nikmat yang tak terduga –مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُkepada kita dari arah yang belum pernah terbisik dalam kalbu. Bagi yang bertawakal, Allah swt. akan memberikan –حَسْبُهُ—kecukupan atas segala apa yang diperlukan. Namun, segalanya tentu sesuai kehendak-Nya bagi manusia yang terpilih dengan segala ketentuan dan pertimbangan sesuai hak prerogratif dari  Ilahi Rabbi.

Selanjutnya, untaian shalawat dan salam selalu terhaturkan kepada Nabi Muhammad saw. yang telah membawa umatnya dari zaman muzlim (suram) pada zaman sa’adah (kemajuan) yakni dinul islam. Beliaulah, sang pencerah di era kesuraman peradaban jahiliyah (the dark age). Nabi telah menjadi cahaya di atas cahaya, Nabi telah menjadi pahlawan di atas segala kejahatan dan penindasan, serta Nabi adalah sang pemberi uswah (teladan) di seluruh peradaban sampai yaumil qiyamah. Termasuk sebuah peradaban Islam dan manusia yang murni lahir dari sosok bernama NABI MUHAMMAD.

Pada kesempatan kali ini, khatib berwasiat kepada diri sendiri dan umumnya kepada seluruh jamaah sekalian yang berbahagia untuk selalu meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah swt. dengan menjalankan segala perintah-Nya serta menjauhi apa-apa yang dilarang. Oleh karenanya, di momen bulan idul qurban dan haji, kita perlu mempersiapkan hati dan jati diri agar supaya dapat mengisi bulan ini dengan penuh qanaah agar menjadi hamba yang pemurah. Judul khutbah kali ini adalah “qanaah Berkurban dan Berhaji’.

اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Hadirin hafidzakumullah…

Kita telah berjumpa dengan bulan berbagi dengan sesama dan bertamu ke rumah Allah swt. Baitullah menjadi tempat berkumpulnya seluruh corak umat manusia dari ujung belahan dunia timur-barat, utara-selatan dan selalu akan ramai pada bulan Dzulhijjah. Di Indonesia, orang rela antri daftar Haji puluhan tahun untuk dapat berkujung ke sana. Saking dahsyatnya, penjual asongan bisa naik Haji. Logikanya dengan penghasilan pas-pasan kok bisa ya naik Haji dengan istithaah (kemampuan) finansial yang sedikit. Belum lagi dengan keadaan ekonomi yang semakin tidak terkendali membuat sejumlah tantangan pendapatan kian tak terukur. Masih ada yang ajib lagi, seorang takmir masjid tiba-tiba dapat hadiah Haji dari hamba Allah swt. Segala sesuatu dapat terjadi dalam momen ibadah Haji. Allah berfirman dalam surat Talaq ayat 2:

وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Artinya: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya". (Surat At Talaq: 2).

Namun, tidak sedikit yang berucap “kalau memang sudah dipanggil ke Baitullah, pasti akan berangkat”. Ini merupakan sebuah rasa qanaah yang terpatri dalam jiwa seorang muslim. Belum lagi tentang tantangan ‘istithaah’ bermanasik ketika prosesi Haji berlangsung. Lautan manusia yang diperkirakan 1 jutaan, telah berkumpul dan berseru bersama dengan melafazdkan kalimat Talbiyah “لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ”. Tiada obat rindu dalam sanubari kecuali soan ke Baitullah Makkah al mukarramah. Sungguh syahdu nan merindu.

Jutaan manusia yang tumpah ruah juga perlu mengatur diri kita masing-masing. Kapan waktunya kita dapat tertib mengantri, disiplin diri, serta menyerahkan segalanya kepada Allah swt. jikalau sudah berikhtiyar dengan seksama. Terkadang demi mengejar pahala yang melimpah di masjid tertentu, terkadang kita cenderung untuk berebut, namun dengan menyakiti orang lain. Tentunya, fenomena ini terus akan kita jumpai di musim Haji mendatang. Tidak heran bahwa terkadang ada jamaah yang mengehmbuskan nafas terakhir ketika prosesi Haji berlangsung. Segalanya tentu bukan faktor kesengajaan.

Jamaah Haji dan Keluarga di tanah air harus menyiapkan hati yang qanaah atas segala apa yang akan terjadi. Dengan berserah diri serta siap lapang dada untuk tidak mengingkari  kepada Allah swt. merupakan pengejawantahan diri pada bulan Haji dalam berqanaah.

اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Hadirin yang berbahagia…

Idul adha merupakan sarana berbagi dalam agama Islam. Cerita turunnya perintah qurban secara tersurat dalam surat Al Hajj ayat 34 dan 35:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۗ فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا ۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ

الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَالصَّابِرِينَ عَلَىٰ مَا أَصَابَهُمْ وَالْمُقِيمِي الصَّلَاةِ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

Alquran QS. Ash-Shaaffaat: 99-111 telah gamblang menjelaskan dengan shorih bahwa kisah Nabi Ibrahim yang saat itu ingin menyembelih anaknya Nabi Ismail telah membuat kisah ini menjadi tonggak disyari’atkannya ibadah qurban.

Dengan adanya sebuah peristiwa tersebut, sampai sekarang berqurban disunnahkan bagi umat Islam yang mampu. Sedangkan dagingnya didistribusikan dalam keadaan mentah agar supaya selera umat dapat menyesuaikan dengan bahan yang siap diolah sebagaimana selera masing-masing.

Setelah ini, bagi yang sudah bisa berkurban mudah-mudahan juga dapat melapangkan jiwanya agar dapat maksimal mendistribusikan daging kurban  untuk sesama. Bukan maksud hati ingin menguasai daging kurban sendiri, namun menjaga hati agar tidak tamak daging dari orang lain. Namun, ada Batasan agar tidak mengambil terlalu banyak bagi shahibul qurban agar supaya menjaga diri dari sifat rakus. Bukankah qanaah merupakan obat hati dari kerakusan dan ketamakan?

اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Hadirin yang kami hormati…

Dalam karyanya yang tertuang dalam Ihya Ulumuddin (Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama) jilid 3, Imam Ghazali  menjelaskan bahwa obat dari hati yang rakus dan serakah adalah qanaah. Karena rakus itulah seorang Qarun yang sangat rakus dan sombong pada masa Nabi Musa AS ditimpa azab. Kekayaannya sangat melimpah hingga kunci-kunci brankasnya saja konon harus dipikul oleh beberapa orang yang kuat. Keserakahannya berujung pada azab Allah SWT. Allah menenggelamkan Qarun beserta seluruh harta, istana, dan pengikutnya ke dalam perut bumi. Atas keserakahan, Kisah dalam Surah Al-Qalam (ayat 17-32) mengenai sekelompok bersaudara yang mewarisi kebun yang sangat subur. Saat musim panen tiba, mereka berencana memanen semua hasilnya secara diam-diam di pagi buta agar orang-orang miskin tidak meminta jatah. Mereka serakah dan membatasi hak orang lain atas harta mereka. Karena keserakahan tersebut, Allah SWT mendatangkan malapetaka (bencana/api) yang menghanguskan kebun tersebut semalaman saat mereka tertidur, sehingga kebun itu musnah sebelum mereka sempat memetiknya.

اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Hadirin yang kami hormati…

Semoga kita dapat menelaah dan melatih diri menjadi hamba yang qanaah dengan cara syukur dan sabar. Menerima rejeki yang diberikan dengan rasa cukup, menerima takdir Tuhan dengan rasa ikhlas, dan tawakal setelah berupaya kepada sang maha kuasa. Semoga di momen qurban dan haji menjadikan jiwa kita tidak rakus dan serakah karena qanaah telah terpatri dalam sanubari.

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (2) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (3)

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ، فَاعْتَبِرُوْا يَآ أُوْلِى اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Khutbah 2

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ  اللهُ أَكْبَرُ  اللهُ أَكْبَرُ  اللهُ أَكْبَرُ  اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

الحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقَهُ الْقُرْآنُ

أَمَّا بَعْدُ، فَأُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاتَّقُوا اللهَ تَعَالَى فِي هَذَا الْيَوْمِ الْعَظِيمِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الطَّيِّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الصَّالحينَ

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، اللّٰهُمَّ اجْعَلْ عِيدَنَا هَذَا سَعَادَةً وَتَلاَحُمًا، وَمَسَرَّةً وَتَرَاحُمًا، وَزِدْنَا فِيهِ طُمَأْنِينَةً وَأُلْفَةً، وَهَنَاءً وَمَحَبَّةً، وَأَعِدْهُ عَلَيْنَا بِالْخَيْرِ وَالرَّحَمَاتِ، وَالْيُمْنِ وَالْبَرَكَاتِ، اللّٰهُمَّ اجْعَلِ الْمَوَدَّةَ شِيمَتَنَا، وَبَذْلَ الْخَيْرِ لِلنَّاسِ دَأْبَنَا، اللّٰهُمَّ أَدِمِ السَّعَادَةَ عَلَى وَطَنِنَا، وَانْشُرِ الْبَهْجَةَ فِي بُيُوتِنَا، وَاحْفَظْنَا فِي أَهْلِينَا وَأَرْحَامِنَا، وَأَكْرِمْنَا بِكَرَمِكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ

عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، عِيْدٌ سَعِيْدٌ وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ