Memelihara Atsar Ibadah Merawat Istiqomah Pasca Ramadhan
Penulis: Amir Fiqih
Ramadhan bukanlah garis finish, melainkan sebuah Madrasah Ruhaniyah (sekolah spiritual) yang bertujuan membentuk pribadi bertakwa. Tantangan sesungguhnya bagi seorang mukmin bukanlah saat berada di dalam "penjara suci" Ramadhan di mana setan dibelenggu, melainkan bagaimana ia membawa "bekas" (atsar) ibadah tersebut ke bulan-bulan berikutnya.
Hakikat Istiqomah
Dalam tradisi di ndonesia, kita sering mendengar:
الإِسْتِقَامَةُ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ كَرَامَةٍ "Istiqomah itu lebih baik daripada seribu karomah."
Istiqomah adalah keteguhan hati untuk tetap berada di jalan ketaatan. Allah SWT berfirman dalam QS. Hud ayat 112:
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ... "Maka tetaplah engkau (Muhammad) di jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat bersamamu..."
Tafsir Singkat: Imam Al-Qusyairi dalam Risalatul Qusyairiyyah menjelaskan bahwa istiqomah adalah derajat yang menyempurnakan segala urusan. Tanpa istiqomah, ibadah seseorang akan terputus (inqitha'), dan amal yang terputus ibarat bangunan yang roboh sebelum jadi.
Tanda Diterimanya Amal
Bagaimana kita tahu puasa dan tarawih kita diterima?
مِنْ جَزَاءِ الْحَسَنَةِ الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا "Salah satu balasan dari kebaikan adalah (diberikannya taufiq untuk melakukan) kebaikan setelahnya."
Jika pasca-Ramadhan shalat jamaah kita lebih terjaga dan lisan lebih basah dengan dzikir, itu adalah basyarah (kabar gembira) bahwa Ramadhan kita membuahkan hasil. Sebaliknya, jika Syawal menjadi ajang "balas dendam" kemaksiatan, kita patut melakukan muhasabah (introspeksi) mendalam.
Amalan Prioritas Pasca-Ramadhan
A. Puasa Enam Hari di Bulan Syawal
Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Imam Muslim: "Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun penuh."
Tinjauan Fikih (Mazhab Syafi'i): Dalam kitab Fathul Mu’in, Syekh Zainuddin al-Malibari menjelaskan bahwa yang utama adalah melakukannya secara berturut-turut (ittishal) mulai tanggal 2 Syawal. Namun, jika dilakukan secara terpisah pun tetap mendapatkan keutamaan (fadhilah). Ini adalah bentuk syukur bin ni'mah atas suksesnya puasa Ramadhan.
B. Menjaga Shalat Jamaah dan Qiyamul Lail (Meskipun Sedikit)
Jangan sampai masjid menjadi "yatim piatu" setelah ditinggal Ramadhan. Rasulullah SAW bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ "Amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten (dawam), meskipun sedikit." (HR. Bukhari & Muslim)
Para ulama menganjurkan agar kita tidak memutus kebiasaan bangun malam. Jika tidak sanggup sebanyak tarawih, kerjakanlah dua rakaat tahajud atau minimal menutup malam dengan shalat Witir.
C. Tadabbur Al-Qur’an: Al-Hal wal Murtahal
Ulama NU sering mengamalkan konsep Al-Hal wal Murtahal. Begitu khatam Al-Qur’an di akhir Ramadhan, segera mulai kembali dari Al-Fatihah. Jangan biarkan mushaf berdebu. Al-Qur’an adalah hidangan Allah (ma'dubatullah), dan sangat tidak sopan jika seorang hamba meninggalkan hidangan Tuhannya begitu saja.
Menghindari Menjadi "Ramadhaniyyun"
Seorang ulama besar, Bisyr al-Hafi, pernah ditanya tentang kaum yang hanya rajin ibadah di bulan Ramadhan saja. Beliau menjawab dengan tegas:
بِئْسَ الْقَوْمُ قَوْمٌ لاَ يَعْرِفُوْنَ لِلَّهِ حَقًّا إِلاَّ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ "Seburuk-buruk kaum adalah mereka yang tidak mengenal hak Allah kecuali hanya di bulan Ramadhan saja."
Jadilah hamba yang Rabbani (menyembah Tuhannya Ramadhan yang kekal), bukan hamba yang Ramadhani (menyembah kemuliaan bulannya saja, lalu berhenti ketika bulannya pergi).
Strategi Latihan Istiqomah
Untuk menjaga ritme ibadah, para kiai sering memberikan ijazah amaliyah sederhana namun mendalam:
Berkumpullah dengan orang shalih. Dalam Kitab Al-Hikam, Ibnu 'Athaillah berpesan: "Jangan bersahabat dengan orang yang keadaannya tidak membangkitkan semangatmu dan ucapannya tidak membimbingmu ke jalan Allah."
Menjaga wirid ringan setelah shalat lima waktu.
Memperbanyak doa yang diajarkan Nabi:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ "Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu."
Menggapai Husnul Khatimah
Ibadah adalah tugas seumur hidup, sebagaimana firman Allah: "Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu al-yaqin (ajal)." (QS. Al-Hijr: 99). Ramadhan adalah momentum recharging (pengisian daya) agar kita punya energi cukup untuk menempuh perjalanan menuju Allah di 11 bulan sisanya.
Semoga Allah SWT mengkaruniakan kita halawatul iman (manisnya iman) sehingga ketaatan tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan kebutuhan ruhani yang menenangkan. Wallahu a'lam bisshawab.