Pendidikan

RAMADHAN MENGAJARKAN PERJUANGAN DAN KEPASRAHAN

RAMADHAN MENGAJARKAN PERJUANGAN DAN KEPASRAHAN

Penulis: Ahmad Afif

Instagramamanahzakat

RAMADHAN MENGAJARKAN PERJUANGAN DAN KEPASRAHAN

By:

Dr. Ahmad Afif, M.EI, CWC

Wakil Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI-Pusat

Seseorang tidak jarang akan selalu terpaku dalam kenestapaan, penderitaan, cobaan, bahkan musibah dan bencana dalam hidupnya. Bukan tanpa sebab, Allah swt. telah memberikan hal itu semua demi memberikan keleluasaan hamba-Nya untuk mendapatkan pahala. Dalam Alquran dinyatakan bahwa:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ ۝١٥٥

wa lanabluwannakum bisyai'im minal-khaufi wal-jû‘i wa naqshim minal-amwâli wal-anfusi wats-tsamarât, wa basysyirish-shâbirîn

Artinya: Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar (QS.Al-Baqarah: 155).

Kabar gembira merupakan surga maupun rejeki yang berlimpah di dunia nantinya. Benar memang, kata peribahasa:

"Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian; Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian".

Sunnatullah yang memberikan cobaan pasti akan beriringan dengan kebahagiaan yang mengiringinya. Tentu masih ingat teori ekonomi yang menyatakan bahwa “high risk, high return”. Industri akan berpotensi menerima profit yang lebih tinggi sejalan dengan risiko yang diambilnya. Sebabnya, tidak jarang seorang pebisnis dan pelaku usaha menjalankan usahanya dengan gigih dan berani. Ideologi ofensif cenderung ditempuh untuk mengambil keuntungan yang sejalan dengan risiko yang diambil. Tidak heran mitigasi risiko menjadi pointer manajerial operasional perusahaan untuk mengantisipasi risiko yang keterlaluan.

Begitu juga kaidah fikih (formulasi hukum Syariah) menyatakan bahwa Al-Ghunmu bil Ghurmi (الْغُنْمُ بِالْغُرْمِ) yang berarti "keuntungan muncul bersama risiko" atau "hak memperoleh hasil setara dengan kewajiban menanggung kerugian". Kaidah ini menekankan keadilan, di mana seseorang berhak atas laba hanya jika ia siap menanggung beban atau risiko kerugian, dan tidak ada jaminan keuntungan tanpa risiko.

Nyatanya, Allah swt. Juga memberikan framing tersebut dalam kehidupan kita sehari-hari. Terkadang kita melihat orang yang sangat kaya. Mobilnya 100, rumahnya puluhan, asetnya milyaran, namun kehidupan dan kebahagiaan tidak menjamin si kaya. Begitu juga sebaliknya, orang yang hidup miskin justru mendapatkan kebahagiaan yang tak dimiliki oleh si kaya. Sinergitas keduanya justru ditemukan oleh faktor saling menolong juga berbagi. Makanya, si kaya harus rajin bersedekah kepada si miskin, juga sebaliknya si miskin harus mendoakan yang berderma; begitulah kehidupan yang diciptakan oleh Tuhan.

Surat Al-Insyirah menyatakan bahwa:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (5) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (6)

Artinya: Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan (QS Al-Insyirah: 5-6).

Dalam tafsir Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu dijelaskan bahwa lafadz ‘usr diredaksionalkan dengan tata bahasa menggunakan isim ma’rifat (khusus) sedangkan lafadz Yusra menggunakan redaksi isim nakirah (umum). Indikasinya ada pada power dan kuantitas kesukaran tidak akan bisa mengalahkan rahmat Allah swt. Berupa Yusra (kemudahan) yang sangat diberkahi.

Hadits tentang rasa sakit dan kelelahan sebagai penghapus dosa diriwayatkan oleh Imam Bukhari (No. 5641/5642) dan Muslim (No. 2573) menyatakan bahwa:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Latin: "Mā yuṣībul-muslimu min naṣabin wa lā waṣabin wa lā hammin wa lā ḥuznin wa lā adzan wa lā gammin, ḥattāasy-syaukati yusyākuhā, illā kaffarallāhu bihā min khaṭāyāh."

Artinya: "Tidaklah seorang muslim ditimpa suatu keletihan, penyakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, kesusahan, bahkan duri yang melukainya, melainkan Allah akan menghapus dosa-dosanya karenanya".

Penegasan tersebut kembali diulas oleh beberapa qaul ulama seperti halnya:

Imam Al-Qurthubi

Beliau menyebutkan bahwa kata ma’a (bersama) menunjukkan bahwa kemudahan hadir seketika ketika kesulitan datang, hanya manusia sering tidak melihatnya.

Ibnul Qayyim berkata:

“Ujian itu mengikis penyakit-penyakit hati, sebagaimana api menghilangkan karat pada besi.”

Imam al-Syafi’i pernah berpesan dalam syairnya: “Bersabarlah dengan sabar yang indah, sungguh dekatlah jalan keluar Barang siapa menjaga Allah, ia akan selamat Barang siapa jujur kepada Allah, ia tak akan disentuh bahaya Barang siapa berharap kepada-Nya, ia akan sampai pada harapannya.”

Intinya dalam setiap cobaan pasti ada kemudahan yang mengiringinya dengan penuh keberkahan. Muslim tidak boleh lalai sehingga kufur nikmat kepada Allah swt. Dan merasa nestapa dan terpuruk dalam kekhawatiran sampai melakukan Tindakan yang merugikan diri. Cobalah terus bermuhasabah sambil bersabar, terlebih penuh syukur atas segala yang diberikan oleh Tuhan. Wallahu a’lam.