Sosial

LEBARAN MENYUCIKAN HATI DAN HARTA

LEBARAN MENYUCIKAN HATI DAN HARTA

Penulis: Dr. Ahmad Afif, M.EI, CWC.

Instagramamanahzakat

Lebaran telah ada di antara kita. Pekikan takbir berkumandang seakan tidak menghiraukan kenestapaan yang tengah menghadang. Entah itu muslim yang sedang tertimpa musibah, mengalami cobaan, bahkan ada yang menderita karena kejahatan perang. Semua tumpah ruah dalam satu pekikan takbir kemenangan.

Langit seakan mengisyaratkan bahwa suara yang memecah kebisingan kecaman perang yang melanda, cobaan yang mendera, serta musibah yang menimpa hanyalah sebuah ilusi belaka. Tidak salah penegasan alquran menjelaskan dengan detail bahwa:

اَلَآ اِنَّ اَوْلِيَاۤءَ اللّٰهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۚ ۝٦٢

alâ inna auliyâ'allâhi lâ khaufun ‘alaihim wa lâ hum yaḫzanûn

Artinya: Ketahuilah bahwa sesungguhnya (bagi) para wali Allah itu tidak ada rasa takut yang menimpa mereka dan mereka pun tidak bersedih. (QS. Yunus: 62).

Ilusi itu kian Nampak jelas apabila seorang muslim ingin menjadi kekasih Allah swt. Bukankah seorang kekasih akan melakukan segalanya demi yang terkasih?

Idul Fitri telah memberikan kabar gembira—entah bagaimanapun keadaan seorang hamba—untuk larut dalam euforia takbir kemenangan. Yang jelas, 30 hari lamanya Ramadhan mengajarkan kita akan sebuah dahaga, Lelah, letih, serta menahan hawa nafsu binatang dalam jiwa setiap insan.

Imam Ghazali memberikan tabir tersendiri tentang nafsu dalam hati sebagai qadrat Ilahi Rabbi. Manusia dikatakan sempurna karena berbeda dengan malaikat yang tak punya nafsu. Namun, dalam nafsu yang bersemayam dalam hati manusia perlu dimanage agar tidak berlebihan dan tidak salah arah.

Alquran menjelaskan tentang pentingnya jalan yang ditempuh walaupun manusia bernafsu.

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ ۝٦

ihdinash-shirâthal-mustaqîm

Artinya: Bimbinglah kami ke jalan yang lurus,

Alfatihah yang menjadi kalam Allah wajib dibaca ketika shalat selalu memberikan reminder kepada muslim agar berjalan di koridor yang benar. Tidak berbelok dari asal mula tujuan hidupnya.

Begitu juga, Ramadhan yang telah melatih seorang yang berderma untuk menyucikan hatinya. Realitas kehidupan memberikan sunnatullah melalui kenyataan  yang kaya mengayomi yang miskin. Analogi kaya dan miskin bisa kita asumsikan seorang bos dan karyawannya. Di sini, bos harus bisa memberikan yang terbaik bagi karyawannya sejalan dengan apa yang diberikan oleh karyawan kepada perusahaan. Tidak serta merta kesalahan mutlak ada pada diri sang bos jikalau perusahaan rugi.  Seorang karyawan sejatinya dapat ikut membahu dengan bos agar perusahaan tidak jadi merugi.

Islam ibarat perusahaan, muslim yang kaya harus dapat berderma. Hal demikian menjadi wajib dikarenakan berdermanya seorang yang kaya akan dapat menyucikan hartanya. Aset yang dimiliki tidak semuanya dimiliki oleh seseorang melainkan ada hak orang lain yang melekat padanya. Muslim yang tidak mampu juga mempunyai tanggung jawab terhadap orang kaya yang telah mendermakan harta untuk dirinya. Melalui untaian doa sebagai pembersih hati, muslim yang kurang mampu harus ikut membahu kesuksesan bagi penderma agar semakin lancar usaha serta makmur kehidupannya.

Keduanya perlu bersinergi secara baik dikarenakan muslim satu dengan yang lain adalah saudara.

«الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا»

Artinya: "Seorang mukmin dengan mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain." (HR. Bukhari no. 481 dan Muslim no. 2585).

Momen lebaran juga demikian halnya dalam menguatkan soliditas persaudaraan antar sesama. Momen sakral sebagai bentuk manifestasi kemenangan dengan cara menyucikan harta dan hati demi mewujudkan persaudaraan yang hakiki.

Selamat berlebaran, semoga kita Kembali kepada kesucian untuk menatap masa depan.